Berbagi tentang apa saja demi kebaikan bersama : demi agama, demi bangsa, demi Indonesia.
Pencarian
Sabtu, 05 September 2015
SEKOLAH HANYA BIKIN SUSAH?
What De Bono's says about the school..? (Apa pendapat De Bono tentang sekolah). Siapakah De Bono? Nama lengkapnya Edward De Bono. Dia seorang Konsultan Bisnis dan Bapak Berpikir Kreatif dari Kanada.
Dia pernah di minta oleh Otoritas Pemerintah Kanada untuk melakukan penelitian mengenai sistem sekolah yg ada di Kanada dan Seluruh Dunia (pernah diundang Mendikbud gak ya?), untuk memberikan solusi kreatif terhadap permasalahan sistem pendidikan yg ada di Kanada.).
De Bono punya identifikasi masalah sekolah yang mirip sekali dengan kondisi sekolah-sekolah kita yang lebih suka menanamkan hafalan darpada pemahaman kepada para murid. Model pembelajaran macam gini meski banyak yang tahu tidak bagus tapi toh tetap dilakukan juga. Para guru Indonesia umumnya tahu kalau murid itu tidak selayaknya di-“suapi” agar mau “mengunyah” ilmu. Para murid itu hanya butuh pendampingan agar mereka benar-benar mampu secara perlahan-lahan untuk benar-benar memahami ilmu. Ini artinya para murid itu lebih tepat bila dibimbing agar menggunakan potensinya sendiri untuk berproses. Tak perlu mikir banyak apa hasilnya yang penting tekun mengikuti tahap demi tahap dalam proses. Sebagai individu yang punya kehendak sendiri (sesuai arti kata “murid”) lebih pas kalau mereka lebih banyak diberi peluang untuk memproses diri dan guru hanya sebatas memandu. Guru jangan merasa serba tahu yang ujung-ujungnya cuma bisa mendiktekan ilmu kepada para murid dan para murid tinggal mencatat lalu menghafalkannya.
Di sekolah, apalagi menjelang UN, murid-murid dipacu untuk menghafal habis-habisan dan hanya pada materi pelajaran yang akan di-UN-kan. Seolah itulah puncak pendidikan yang selama ini mereka ikuti. UN seperti pintu gerbang amat sangat mahal yang mampu mengantarkan kesuksesan murid-murid di hari-hari berikutnya. Sehingga kita sering melihat anak-anak sekolah kegirangan luar biasa ketika lulus UN dan menjerit histeris ketika gak lulus UN. Dulu malah ada yang bunuh diri, kan?
Itulah ironi sekolah. Para murid yang mau menghafal dan berhasil lulus UN dianggap sebagai murid pintar atau juara. Sementara para murid yang gak mau menghafal dan akibatnya gak lulus ujian dikelompokkan sebagai murid bodoh dan gagal. Sekolah-sekolah yang murid-muridnya lulus UN 100% bangga luar biasa dan kalau sampai ada yang berani hanya meluluskan 99% saja, siap-siaplah untuk dinilai atasan sebagai pengurus sekolah yang gak becus kerja alias kinerjanya akan dinilai buruk.
Padahal sudah berapa banyak contoh di kehidupan nyata ada orang-orang “gagal sekolah” tapi sukses besar di kehidupan nyata. Contoh paling aktualnya ya Menteri Kelautan Susi itu. Tapi ternyata contoh inipun malah dicibir oleh para pengurus sekolah. Kata mereka sosok menteri Susi telah melemahkan semangat anak-anak sekolah. “Buat apa sekolah, wong gak tamat SMA saja bisa jadi menteri”, gitu kata mereka. Kenapa mereka tidak justru lihat ke dalam diri dan mempertanyakan apa yang salah dengan sekolah, kok sampai tidak bisa menjamin para muridnya bisa sukses menjalani gidup padahal mereka dulu sukses di sekolah berupa nilai rapotnya selalu tinggi dan lulus UN?
Padahal di kehidupan nyata, orang dituntut mampu selalu berpikir, menganalisis data dan fakta yang ada, menggunakan logika untuk mrngolah menjadi strategi dan solusi bagi setiap masalah yang dihadapi di manapun. Para murid yang dulu menolak menghafal di sekolah kebanyakan adalah anak-anak yang secara alamiah selalu setia melakukan proses berpikir logika. Di otak mereka selalu muncul pertanyaan-pertanyaan seperti “mengapa aku harus melakukan ini?”, “untuk apa dan siapa ini aku lakukan?”, “apa manfaatnya ini bagiku?” dan lain-lain. Sementara sang juara hafalan yang dulu dimanjakan sekolah, segera kehilangan daya saat berhadapan dengan setumpuk masalah hidup yang gak mereka temukan jawabannya dari rumus-rumus ilmu yang dulu sudah dihafalnya. Maka terjadilah fenomena yang sangat menarik, di mana para murid-murid yang dulu pintar di sekolah sekarang justru banyak menjadi pekerja, karyawan, dan paling top menjadi staf ahli dari murid-murid yang dulu dianggap gagal di sekolah.
Langganan:
Komentar (Atom)
